Pengertian Karya Ilmiah
“Karangan ilmiah merupakan suatu
karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan
didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu,
disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun
bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/
keilmiahannya.”—Eko Susilo, M. 1995:11
Tujuan dari pembuatan karangan
ilmiah, antara lain :
- Memberi
penjelasan
- Memberi
komentar atau penilaian
- Memberi
saran
- Menyampaikan
sanggahan
- Membuktikan
hipotesa
Karya ilmiah adalah suatu karya
dalam bidang ilmu pengetahuan (science) dan teknologi yang berbentuk
ilmiah. Suatu karya dapat dikatakan ilmiah apabila proses perwujudannya lewat
metode ilmiah. Jonnes (1960) memberikan ketentuan ilmiah, antara lain
dengan sifat fakta yang disajikan dan metode penulisannya.
Bila fakta yang disajikan berupa
fakta umum yang obyektif dan dapat dibuktikan benar tidaknya serta ditulis secara
ilmiah, yaitu menurut prosedur penulisan ilmiah, maka karya tulis tersebut
dapat dikategorikan karya ilmiah, sedangkan bilamana fakta yang disajikan
berupa dakta pribadi yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan benar tidaknya
serta tidak ditulis secara ilmiah, karya tulis tersebut termasuk karya tulis
non ilmiah.
Bentuk Karya Ilmiah
Dalam karya ilmiah dikenal antara
lain berbentuk makalah, report atau laporan ilmiah yang dibukukan, dan
buku ilmiah.
1. Karya Ilmiah Berbentuk Makalah
Makalah pada umumnya disusun untuk
penulisan didalam publikasi ilmiah, misalnya jurnal ilmu pengetahuan, proceeding
untuk seminar bulletin, atau majalah ilmu pengetahuan dan sebagainya. Maka ciri
pokok makalah adalah singkat, hanya pokok-pokok saja dan tanpa daftar isi.
2. Karya Ilmiah Berbentuk Report/
Laporan Ilmiah Yang Dibukukan
Karya ilmiah jenis ini biasanya
ditulis untuk melaporkan hasil-hasil penelitian, observasi, atau survey yang
dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang. Laporan ilmiah yang menjadi
persyaratan akademis di perguruan tinggi biasanya disebut Skripsi, yang
biasanya dijadikan persyaratan untuk karya ilmiah jenjang S1, Tesis untuk
jenjang S2, dan Disertasi untuk jenjang S3.
3. Buku Ilmiah
Buku ilmiah adalah karya ilmiah yang
tersusun dan tercetak dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit buku umum untuk
dijual secara komersial di pasaran. Buku ilmiah dapat berisi pelajaran khusus
sampai ilmu pengetahuan umum yang lain.
Ciri-Ciri Karya Ilmiah
1. Struktur Sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat
ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok
pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian
inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang
dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan
kesimpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut
gagasan tersebut.
2. Komponen dan Substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi
sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian
inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal
mempersyaratkan adanya abstrak.
3. Sikap Penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah
adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal,
dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang
pertama atau kedua.
4. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya
ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata / istilah, dan
kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Macam-Macam Karya Ilmiah
1. Skripsi;
adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar
sarjana (S1). Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat
tersebut didukung data dan fakta empiris-obyektif, baik berdasarkan penelitian
langsung, observasi lapangan / penelitian di laboratorium, ataupun studi
kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah
sumbangan material berupa penemuan baru.
2. Tesis;
adalah jenis karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Tesis
mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan
kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Orisinalitas tesis harus nampak, yaitu
dengan menunjukkan pemikiran yang bebas dan kritis. Penulisannya baku dan tesis
dipertahankan dalam sidang. Tesis juga bersifat argumentative dan dihasilkan
dari suatu proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu.
3. Disertasi;
adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan
program S3 ilmu pendidikan. Disertasi merupakan bukti kemampuan yang
bersangkutan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan baru
dalam salah satu disiplin ilmu pendidikan.
Sikap Ilmiah
Dalam penulisan karya ilmiah,
terdapat 7 sikap ilmiah yang merupakan sikap yang harus ada. Sikap-sikap ilmiah
tersebut adalah sebagai berikut :
1) Sikap ingin
tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada
kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.
2) Sikap kritis
Sikap kritis ini terlihat pada
kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya
untuk dibanding-banding kelebihan -kekurangannya, kecocokan-tidaknya,
kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
3) Sikap obyektif
Sikap objektif ini terlihat pada
kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
4) Sikap ingin
menemukan
Selalu memberikan saran-saran untuk
eksperimen baru. Kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen dengan cara yang
baik dan konstruktif. Selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan
yang dilakukannya.
5) Sikap
menghargai karya orang lain
Sikap menghargai karya orang lain
ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya
pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau
pendapat orang lain.
6) Sikap tekun
Tidak bosan mengadakan penyelidikan,
bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti
melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai. Terhadap hal-hal yang ingin
diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7) Sikap terbuka
Sikap terbuka ini terlihat pada
kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang
lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan
orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
http://id.shvoong.com/how-to/writing/2222452-pengertian-ciri-dan-syarat-karya/
http://skinhead4life-carigaragara.blogspot.com/2010/03/hakikat-karya-ilmiah-ciri-ciri-karya.html
http://bloggueblog.wordpress.com/2012/04/20/pengertian-ciri-ciri-dan-macam-macam-karya-ilmiah/
Karya Tulis
Ilmiah
Pengertian Karya Tulis
Karya tulis mempunyai banyak ragam
tergantung dari tujuan, manfaat, sumber penulisan, dan aspek-aspek lainnya.
Berdasarkan sumbernya, secara umum karya tulis dapat diklasifikasikan menjadi
dua yaitu karya fiksi (tidak ilmiah) dan non fiksi (ilmiah). Karya fiksi
merupakan karya tulis yang sumbernya semata-mata imajinasi, fantasi, atau
rekaan dari si penulis. Tujuan orang menulis fiksi biasanya untuk menghibur
atau bisa jadi untuk mengungkapkan isi hati penulis. Karya sastra merefleksikan
situasi masyarakat tertentu. Contoh dari karya tulis jenis ini adalah karya
sastra: novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.
Pengertian
Karya Ilmiah
Karya ilmiah (scientific paper)
adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah
dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika
keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan tertentu.
Jenis-jenis karya ilmiah antara lain: karangan ilmiah, laporan penelitian, makalah atau paper, artikel, dan lain-lain.
Barangkali anda sering mendapat tugas dari guru untuk membuat karangan,
makalah, atau paper sewaktu menempuh pelajaran tertentu. Ini artinya anda sudah
pernah membuat karya ilmiah.
Pengertian
Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah
dapat didefinisikan sebagai laporan tertulis tentang (hasil) suatu kegiatan
ilmiah. Definisi yang lebih kompleks dapat dikemukakan bahwa pengertian
karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah
berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan,
tes laboratorium, ataupun kajian pustaka yang didasarkan pada pemikiran (metode) ilmiah yang logis dan empiris.
Karya tulis ilmiah
dapat dipilah dalam dua kelompok yaitu: (a) karya tulis ilmiah yang merupakan
laporan hasil pengkajian/penelitian, dan (b) karya tulis ilmiah yang berupa
tinjauan/ulasan/ gagasan ilmiah. Meskipun keduanya berbeda, namun sebagai
tulisan yang bersifat ilmiah terdapat beberapa ciri yang menunjukkan kesamaan
antara lain :
- hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan
pengetahuan keilmuan
- kebenaran isinya mengacu kepada kebenaran ilmiah
- kerangka sajiannya mencerminan penerapan metode ilmiah
- tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan
karya
Jenis
Karya Tulis Ilmiah
Seperti yang sudah saya sampaikan
pada postingan terdahulu tentang macam-macam karya tulis ilmiah,
Karya tulis ilmiah dapat disajikan dalam bentuk laporan penelitian, artikel
ilmiah di jurnal, artikel ilmiah popular di media massa, makalah seminar, buku, diktat, modul, maupun karya
terjemahan. Dengan demikian terdapat banyak pilihan bagi guru dalam
mengembangkan profesinya melalui karya tulis ilmiah. Tidak ada salahnya pada
tulisan ini saya jabarkan lagi secara singkat jenis-jenis karya tulis ilmiah.
- Makalah atau paper
merupakan rumusan atau simpulan pemikiran sebagai hasil telaah atau
pengkajian sederhana dari sebuah referensi bacaan, pemikiran tokoh,
ilmuwan atau penulis sebelumnya. Karya ilmiah jenis ini biasa diberikan
oleh dosen atau guru kepada mahasiswa atau siswanya. Tujuannya biasa untuk
memberikan ruang bagi peserta didik dalam menuangkan gagasan ilmiahnya
untuk mengasah kemampuan intelektualnya dalam menanggapi permasalahan yang
berkembang. Makalah biasanya disajikan dalam forum seminar, lokakarya,
workshop dan sejenisnya.
- Laporan praktikum
biasanya merupakan laporan tertulis dari serangkaian kegiatan praktikum
yang telah dilakukan oleh seorang atau sekelompok siswa. Dalam menuliskan
laporan unsur kronologis menjadi sangat penting karena praktik kerja baik
di lapangan maupun di laboratorium terdiri dari tahapan-tahapan yang
sistematis yang harus dilaporkan secara sistematis juga. Dengan demikian
penulisan laporan praktikum dituntut untuk menyampaikan sebuah kegiatan
secara sistematis, runtut dan terperinci.
- Artikel
merupakan gagasan tertulis dari penulis tentang suatu permasalahan yang
didasarkan pada kajian pustaka atau hasil penelitian. Artikel merupakan
diseminasi pemikiran dari ahli atau seseorang yang secara intens mengamati
permasalahan tertentu (pengamat). Artikel hampir mirip dengan makalah,
yang membedakan adalah ruang publikasinya. Apabila makalah disampaikan
dalam forum seminar atau workshop, artikel dipublikasikan di media massa
baik jurnal ilmiah atau media massa (koran atau majalah, yang biasa
disebut artikel ilmiah populer). Artikel dapat ditulis dalam berbagai
bentuk yaitu opini, essay atau feature. Opini merupakan gagasan pribadi
penulis, sedangkan essay merupakan karangan prosa yang membahas suatu
masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang penulisnya (Kamus Besar
Bagasa Indonesia, 2005: 308). Sedangkan feature merupakan bentuk penulisan
artikel yang berupa berita.
- Tugas akhir
baik skripsi (tingkat S1), thesis (S2) atau disertasi (S3) merupakan karya
ilmiah yang ditujukan untuk mengakhiri studi di perguruan tinggi. Tugas
akhir biasanya berupa hasil penelitian dari bidang tertentu (sesuai
jurusan atau program studi yang diambil) yang kemudian diujikan secara
lisan untuk memperoleh derajat kelulusan dan kelayakan karya tersebut.
http://belajarpsikologi.com/karya-tulis-ilmiah/
LAPORAN ILMIAH
A. Pengertian Umum
Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau
gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan
dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan
suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang
diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan
ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah
sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi
yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam
kesempatan tertentu.
Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori
tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan
(E.Zaenal Arifin,1993).
Dan menurut Nafron Hasjim & Amran Tasai (1992) Karangan ilmiah adalah
tulisan yang mengandung kebenaran secara obyektif karena didukung oleh data
yang benar dan disajikan dengan penalaran serta analisis yang berdasarkan
metode ilmiah.
Laporan ilmiah adalah bentuk tulisan ilmiah yang disusun berdasarkan data
setelah penulis melakukan percobaan, peninjauan, pengamatan, atau membaca
artikel ilmiah.
Berikut ini adalah beberapa hal yang
harus diperhatikan tentang laporan ilmiah.
1. Kegiatan menulis laporan ilmiah merupakan kegiatan utama terakhir dari suatu
kegiatan ilmiah.
2. Laporan ilmiah mengemukakan permasalahan yang ditulis secara benar, jelas,
terperinci, dan ringkas.
3. Laporan ilmiah merupakan media yang baik untuk berkomunikasi di lingkungan
akademisi atau sesama ilmuwan.
4. Laporan ilmiah merupakan suatu dokumen tentang kegiatan ilmiah dalam
memecahkan masalah secara jujur, jelas, dan tepat tentang prosedur, alat, hasil
temuan, serta implikasinya.
5. Laporan ilmiah dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuwan lain sehingga
syarat-syarat tulisan ilmiah berlaku juga untuk laporan.
6. Laporan ilmiah, umumnya, mempunyai garis besar isi (outline) yang
berbeda-beda, bergantung dari bidang yang dikaji dan pembaca laporan tersebut.
Namun, umumnya, isi laporan terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi,
dan penutup.
Suatu karya dapat dikatakan ilmiah
jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Penulisannya berdasarkan hasil penelitian, disertai pemecahannya
2. Pembahasan masalah yang dikemukakan harus obyektif sesuai realita/ fakta
3. Tulisan harus lengkap dan jelas sesuai dengan kaidah bahasa, Pedoman Umum
4. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), serta Pedoman Umum
Pembentukan Istilah (PUPI)
5. Tulisan disusun dengan metode tertentu
6. Tulisan disusun menurut sistem tertentu
7. Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, ringkas, tepat, dan cermat
sehingga tidak terbuka kemungkinan adanya ambiguitas, ketaksaan, maupun
kerancuan.
Jenis Laporan Ilmiah
a. Laporan Lengkap (Monograf).
1) Menjelaskan proses penelitian secara menyeluruh.
2) Teknik penyajian sesuai dengan aturan (kesepakatan) golongan profesi dalam
bidang ilmu yang bersangkutan.
3) Menjelaskan hal-hal yang sebenarnya yang terjadi pada setiap tingkat
analisis.
4) Menjelaskan (juga) kegagalan yang dialami,di samping keberhasilan yang
dicapai.
5) Organisasi laporan harus disusun secara sistamatis (misalnya :judul
bab,subbab dan seterusnya,haruslah padat dan jelas).
b. Artikel Ilmiah
1) Artikel ilmiah biasanya merupakan perasan dari laporan lengkap.
2) Isi artikel ilmiah harus difokuskan kepada masalah penelitian tunggal yang
obyektif.
3) Artikel ilmiah merupakan pemantapan informasi tentang materi-materi yang
terdapat dalam laporan lengkap.
c. Laporan Ringkas
Laporan ringkas adalah penulisan kembali isi laporan atau artikel dalam bentuk
yang lebih mudah dimengerti dengan bahasa yang tidak terlalu teknis (untuk
konsumsi masyarakat umum).
B. Sistematika Laporan
Ilmiah Laporan ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi hal-hal
yang terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap. Secara
umum, sistematika suatu laporan yang lengkap terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu
bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.
1. Bagian Pembuka
Bagian pembuka umumnya digunakan apabila laporan merupakan tulisan yang berdiri
sendiri secara utuh. Untuk laporan penelitian dalam jurnal atau bagian dari
sebuah buku, tidak seluruh unsur dalam bagian pembuka tersebut digunakan.
Bagian pembuka ini terdiri atas :
a. Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi
asal, kota penyusunan, dan tahun
b. Halaman pengesahan (jika perlu)
c. Halaman motto/semboyan (jika perlu)
d. Halaman persembahan (jika perlu)
e. Prakata;
f. Daftar isi;
g. Daftar tabel (jika ada)
h. Daftar grafik (jika ada)
i. Daftar gambar (jika ada)
j. Abstak : uraian singkat tentang isi laporan
2. Bagian Isi
Bagian isi merupakan menyajikan atau mengomunikasikan informasi ilmiah yang
ingin disampaikan. Pada bagian isi inilah seluruh komponen pendahuluan, kajian
pustaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta
simpulan dan saran disajikan secara lengkap. Bagian isi terdiri dari :
a. Bab I Pendahuluan
Pendahuluan merupakan tulisan yang disusun untuk memberikan orientasi kepada
pembaca mengenai isi laporan penelitian yang akan dipaparkan, sekaligus
perspektif yang diperlukan oleh pembaca untuk dapat memahami informasi yang
akan disampaikan Pendahuluan terdiri atas :
(1) Latar belakang
(2) Identitas masalah
(3) Pembatasan masalah
(4) Rumusan masalah
(5) Tujuan dan manfaat
b. Bab II :
Kajian Pustaka
Kajian pustaka mengungkapkan teori-teori serta hasil-hasil penelitian terdahulu
yang pernah dilakukan pada topik yang sama atau serupa. Berdasarkan analisis
terhadap pustaka tersebut, peneliti dapat membatasi masalah dan ruang lingkup
penelitian, serta menemukan variabel penelitian yang penting dan hubungan
antarvariabel tersebut.
c. Bab III :
Metode
Pada bagian ini biasanya dijelaskan secara rinci mengenai desain penelitian,
populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan dan analisis data, serta
kelemahan penelitian.
d. Bab IV :
Pembahasan
Pembahasan pada dasarnya merupakan inti dari sebuah tulisan ilmiah. Pada bagian
ini penulis menyajikan secara cermat hasil analisis data serta pembahasannya berdasarkan
kajian pustaka dan kerangka teori yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
e. Bab V :
Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari laporan ilmiah tersebut.
Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis
dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan diperoleh dari uraian analisis,
interpretasi dan deskripsi yang telah dituliskan pada bagian analisis dan
pembahasan. Untuk menulis simpulan, penulis perlu mengajukan pertanyaan pada
diri sendiri tentang hasil apa yang paling penting dari penelitian yang
dilakukan. Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang dituliskan pada bagian
simpulan. Pada bagian akhir, biasanya simpulan disertai dengan saran mengenai
penelitian lanjut yang dapat dilakukan
3. Bagian Penutup
a. Daftar Pustaka
b. Daftar Lampiran
c. Indeks daftar istilah
C. Langkah-Langkah Membuat Laporan
Agar dapat menyusun laporan yang baik dan efektif, perlu dipersiapkan dengan
matang. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti berikut.
1. Menetapkan tujuan laporan Pembuat laporan harus tahu, untuk apa laporan
dibuat dan siapa yang akan membaca laporan tersebut.
2. Menentukan Bahan Laporan
Bahan-bahan laporan yang dapat digunakan adalah:
(1) surat-surat keputusan
(2) notulen hasil rapat
(3) buku-buku pedoman
(4) hasil kegiatan
(5) hasil penelitian
(6) hasil diskusi
3. Menentukan cara penngumpulan data
Cara pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
(1) Membuat petunjuk pelaksanaan bagi peneliti yang menjelaskan sasaran dan
penyesuaian kegiatan
(2) Melakukan wawancara
(3) Mengumpulkan dokumen pelaksanaan kegiatan
(4) Penyusunan daftar pengecekkan untuk melihat data yang ada dan yang tidak
ada
4. Mengevaluasi Data Data yang telah
dikumpulkan dievaluasi untuk dibuat suatu simpulan.
5. Membuat Kerangka Laporan Kerangka
laporan dibuat sesuai dengan sistematika laporan.
D. Teknik Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau bahan
lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian dari tulisan
yang sedang dibuat. Melalui daftar pustaka, pembaca dapat mengetahui
keseluruhan sumber yang digunakan dalam tulisan yang dibacanya sehingga dapat
merujuk pada sumber asli Unsur-unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara
berturut-turut meliputi: nama penulis, tahun penerbitan, judul tulisan, kota
tempat penerbitan, dan nama penerbit.
Penulisan daftar pustaka, secara umum adalah sebagai berikut.
1. Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,…..) berturut-turut dari atas
ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan semacamnya.
2. Cara penulisan sebuah sumber
pustaka berturut-turut adalah sebagai berikut.
a. Penulisan nama pengarang Nama pengarang bagian belakang (nama akhir atau
nama keluarga) ditulis lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan
kemudian diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau lembaga,
dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada nama pengarang, urutannya
harus dimulai dengan judul buku.
b. Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
c. Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf miring,
diikuti tanda titik
d. Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
e. Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik
3. Apabila digunakan dua sumber
pustaka atau lebih yang sama penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih
dulu terbit diikuti buku yang terbit kemudian.
4. Bila tidak ada nama penulis,
judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alfabet.
5. Jarak antara baris dan baris
untuk satu referensi adalah satu spasi tetapi jarak antara pokok dengan pokok
adalah dua spasi.
6. Baris pertama dimulai dari margin
kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam
sebanyak empat ketukan mesin tik.
7. Apabila sebuah referensi ditulis
oleh lebih dari dua orang penulis, hanya satu nama yang dicantumkan dalam
daftar pustaka dengan susunan nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya
disingkat dkk atau dll.
E. Format Penulisan Laporan
Ukuran dan Jenis Kertas Format penulisan sesuai dengan sistematika laporan
formal di atas. Format penulisannya tergambarkan dalam daftar isi dengan
pengetikan atau penulisan yang teratur, terperinci, dan jelas bagian-bagiannya.
Adapun teknik penulisan meliputi hal-hal sebagai berikut
1. Margin Ukuran margin terdiri atas batas kiri dan batas atas 4 cm. Serta
batas kanan dan batas bawah 3 cm dari pinggir kertas. Semua tulisan termasuk
tabel dan gambar berada dalam margin. Subjudul bagian bawah halaman harus
diikuti dengan dua baris penuh di bawahnya, bila tidak memungkinkan subjudul
ditulis pada halaman berikutnya. Begitupun kata terakhir pada suatu halaman
tidak boleh dipisahkan ke halaman berikutnya tetapi seluruh kata ditulis pada
halaman berikutnya.
2. Spasi Secara umum keseluruhan
tulisan menggunakan spasi ganda. Kecuali untuk tabel, daftar pustaka, dan
kutipan mempergunakan pula spasi tunggal (sesuai dengan aturan penulisan
kutipan dan daftar pustaka). Alinea baru dapat dimulai dengan perbedaan spasi.
3. Penomoran Penomoran meliputi penomoran halaman, bab, subbab, dan rincian
uraian.
a. Penomoran Halaman Halaman-halaman pendahuluan diberi nomor dengan
menggunakan angka romawi kecil. Halaman-halaman isi dan penunjang menggunakan
angka arab. Letak penomoran halaman ditempatkan di tengah dan dua spasi di atas
margin bawah (bottom, center, headfooter 2,2 cm)
b. Penomoran Bab dan Subbab Penomoran mempergunakan penanda urutan sebagai
berikut.
(1) Tingkat pertama dengan tanda: I, II, III, IV, V, dan seterusnya.
(2) Tingkat kedua dengan tanda: 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan seterusnya.
(3) Tingkatan ketiga dengan tanda: 1.1.1, 1.1.2, 1.1.3, 1.1.3, 1.1.4, 1.1.5,
dan seterusnya.
(4) Tingkatan keempat dengan tanda: 1.1.1.1, 1.1.1.2, 1.1.1.3, 1.1.1.4, dan
seterusnya.
(5) Tingkatan kelima dengan tanda: 1.1.1.1.1, 1.1.1.1.2, 1.1.1.1.3, 1.1.1.1.4,
dan seterusnya.
4. Tabel atau Gambar
a. Tabel Sebuah tabel terdiri atas nomor dan judul tabel, stub, box head, dan
body. Nomor tabel ditulis dengan angka arab. Penomoran tabel menurut bab,
misalnya nomor tabel 2.1, artinya tabel tersebut tabel pertama yang ada pada
bab kedua. Judul harus padat dan dapat memberikan keterangan tentang data yang
tercantum dalam tabel. Judul ditulis dengan huruf kapital setiap unsur katanya
kecuali kata hubung. Apabila tabel bersumber pada tulisan atau referensi lain,
tuliskan sumber referensinya pada bawah tabel.
b. Gambar Istilah gambar mencakup di dalamnya diagram bundar, batang, garis,
histogram, dan sebagainya. Gambar harus diberi nomor dan judul. Pemberian nomor
dan judul tidak berbeda dengan pemberian nomor dan judul pada tabel.
Perbedaannya terletak pada penempatan. Nomor dan judul gambar diletakkan di
bawah gambar.
5. Bahasa Bahasa yang dipergunakan dalam laporan ilmiah harus mengandung
kejelasan dan reproduktif. Untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan
Pedoman Pembentukan Istilah.
6. Jenis Kertas Jenis kertas yang dipakai adalah jenis HVS, ukuran folio, atau
kuarto bergantung pada aturan yang telah ditetapkan.
Silogisme
Kategorial
Silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua
proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang
bersifat umum disebur premis mayor dan peremis yang bersifat khusus disebut
premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan
disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilakan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara
premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme di atas ialah
manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada
simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada simpulan)
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
1. Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan
term penengah
2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu mayor, premis minor, dan
simpulan.
3. Dua premis yang negative tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulau pun adalah manusia.
1. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelai
Jadi, tidak seekor singa pun berbelai.
1. Dari premis yang positif, akan dihasilakn simpulan yang positif.
Contoh: Silakan anda buat pernalaran itu.
1. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
1. Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
1. Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat
ditarik satu kesimpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, tidak ada simpulan.
MEMAHAMI POLA PENALARAN
Penalaran merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya dalam
menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan
dikemukakannya kepada orang lain.
Pola penalaran secara sederhana dibedakan menjadi dua: 1) deduktif; dan 2)
induktif. Pola penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi
secara etimologis berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses
penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum / universal.
Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka,
deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau
individual.
Dalam konteks demikian terdapat prinsip, hukum, teori, atau putusan lain yang
berlaku umum suatu suatu hal, peristiwa, atau gejala. Perhatikan contoh berikut
:
1. Semua siswa-siswi kelas XII IPA SMA Gila Nama memperoleh predikat lulus100 %
dan memuaskan serta menduduki peringkat empat besar dalam Ujian Nasional tahun
lalu. Tetanggaku, Kenthus yang agak nyeleneh itu, siswa kelas XII IPA di
sekolah itu. Maka, pastilah si Kenthus lulus dengan predikat memuaskan serta
baik nilainya.
KALIMAT SALAH NALAR
Salah nalar
Coba
Anda perhatikan contoh di bawah ini.
(a)
Pada hari ini saya datang terlambat karena jalannya macet
(b)
Saya mohon maaf tidak bisa mengikuti arisan karena tidak ada waktu.
Kalimat
di atas merupakan bagian surat yang sering kita lihat pada surat pemberitahuan.
Jika dilihat selintas memang kalimat di atas tampak efektif karena mudah kita
pahami. Akan tetapi, kalimat tersebut sebenarnya tidak efektif karena salah
nalar. Pada kalimat (a) terdapat frasa jalannya macet. Di dalam
Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI, 1994: 611) kata macet berarti
terhenti atau tidak lancar. Kata terhenti atau frasa
tidak
lancar hanya boleh mengikuti kata yang
bermakna ’gerak.’ Sedangkan kata jalan tidak mengandung makna
’gerak.’ Oleh karena itu, frasa jalanya macet mengalamai
salah nalar, karena kata jalan pada konteks kalimat tersebut
memang tidak pernah bergerak.
Hal
yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada kalimat (b). Tuhan telah memberikan
waktu kepada kita 24 jam dalam satu hari dan satu malam. Jadi kalau ia tidak
bisa arisan karena tidak ada waktu, berarti terjadi salah nalar. Kemungkinan
yang tidak ada adalah kesempatan, karena setiap orang memiliki
kesempatan yang berbeda-beda.
Dua
kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:
(a)
Pada hari ini saya datang terlambat karena lala lintas macet
(b)
Saya mohon maaf tidak bisa mengikuti arisan karena tidak ada kesempatan
untuk datang.
Masih
banyak contoh kalimat lain yang salah nalar, misalnya:
(a)
Mobil Pak Sanusi mau dijual.
(b)
Waktu dan tempat kami persilakan kepada Bapak Rustamaji.
(c)
Bola berhasil masuk ke gawang lawan.
Kalimat
di atas dapat diperbaiki menjadi:
(a)
Mobil Pak Sanusi akan dijual.
(b)
Bapak Rustamji kami persilakan.
(c)
Ronaldo berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.
http://rizza-af-guruindo.blogspot.com/2011/03/kalimat-salah-nalar.html